Message Board

Strategi Perbankan Dalam Mendukung UMKM Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)

ASEAN Ecomonic Community (AEC) atau (MEA) akan diberlakukan, kawasan ASEAN selanjutnya akan menjadi pasar tunggal dan kesatuan yang berbasis produksi, dimana mobilitas arus barang, jasa, investasi, modal dan tenaga kerja terampil akan bergerak bebas antar negara-negara yang tergabung dalam negara ASEAN.

Konsekuensi dari kesepakatan itu membuka lebar pasar ekonomi di kawasan regional Asean karenanya, jika ingin terlibat dan diperhitungkan, Indonesia harus berbenah. Semua sector industry harus dilengkapi kemampuan untuk bisa bersaing dengan negara ASEAN lainya.

Tujuan yang ingin dicapai melalui MEA, adalah adanya aliran bebas barang, jasa, dan tenaga kerja terlatih, serta aliran investasi yang lebih bebas. Dalam penerapanya pada 2015, MEA akan menerapkan 12 sektor prioritas yang disebut free flow of skilled labor (arus bebas tenaga kerja terampil).

Ke-12 sektor terampil itu adalah untuk perawatan kesehatan (health care), turisme (toursm), jasa logistic (logistic services), e-ASEAN, jasa angkutan udara (air travel transport), produk berbasis agro (agrobased products), barang-barang electronic (electronics), perikanan (fisheris), produk berbasis karet (rubber based products), tetkil dan pakaian (textiles and appareles), otomotif (otomotive) dan produk berbasis kayu (wood based products).

Peluang Indonesia untuk bersaing di pasar bebas Asean nanti, sebenarnya cukup besar. Paling tidak bagi Indonesia ada beberapa faktor yang mendukung seperti peringkat Indonesia yang berada pada rangking 16 dunia dalam besaran skala ekonomi dengan 108 juta penduduk. Dimana, jumlah penduduk ini merupakan kelompok menengah yang sedang tumbuh. Sehingga berpotensi sebagai pembeli barang-barang impor (sekitar 43 juta penduduk).

Untuk pertumbuhan Gross Domestic Product (GDP) atau PDB Indonesia mengalami pertumbuhan yang positif sebesar 5,04% di tahun 2015, bahkan masuk dalam rangking 5 besar dunia setelah India, China, Philipina dan Pakistan, tentu saja dengan pertumbuhan GDP sebagai indikator kemakmuran ekonomi dengan segala dan kekuatan dan kelemahannya, Indonesia menjadi pasar barang dan jasa yang sangan potensial, data pertumbuhan PDB antara China dan Indonesia seperti dalam Grafik di bawah ini : 

Kemudian perbaikan peringkat investasi Indonesia oleh lembaga pemeringkat dunia, dan masuknya Indonesia sebagai peringkat ke 4 prospective destination berdasarkan UNCTAD world investement report. Dan, pemerintah sendiri telah menerbitkan aturan (keputusan Presiden) No.37/2014 yang memuat banyak indicator yang harus dicapai dalam upaya untuk meningkatkan daya saing nasional dan kesiapan menghadapi MEA.

Dan awal September lalu diterbitkan juga inpres No.6/2014, tentang peningkatan daya saing menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean, pemerintah Indonesia sudah menyiapkan pengembangan sector industry, agar bisa bersaing di pasar bebas ASEAN itu. Sebut saja upaya pengembangan industri perbankan yang masuk dalam 10 pengembangan industri yang harus diantar kegerbang pasar bebas dengan semua keunggulanya .

Menjelang beberapa bulan penerapan MEA, semua sektor memang harus dihadapi, siap tidak siap. Industri perbankan di Indonesia harus menjadi tuan rumah di negara sendiri, tapi juga memperlebar ekspansinya kenegara ASEAN lainya.

Keberadaan sektor-sektor (12 sektor) tersebut di atas yang akan masuk dalam kesepakan MEA ini adalah paling banyak melibatkan Usaha Menengah Kecil Mikro (UMKM) di Indonesia, tentu saja daya saing untuk UMKM ini harus ditingkatkan baik dari sisi produksi, SDM, pasar dan modal kerja. Peran industri Lembaga Keuangan (Perbankan) tentu saja sangat menentukan bagaimana para pengusaha UMKM mempunyai daya saing di tingkat MEA.

Usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) memegang peranan yang sangat penting dalam sistem perekonomian di Indonesia. Peranan tersebut terlihat dari jumlah unit usaha dan daya serap tenaga kerja serta sumbangan UMKM terhadap produk domestik bruto. Kenyataan ini memposisikan UMKM sebagai suatu sektor strategis yang perlu mendapat perhatian dan pengembangan secara konsisten dan berkesinambungan.

Lembaga keuangan khususnya perbankan mempunyai peranan yang strategis dalam pengembangan UMKM. Hal ini terkait dengan fungsi perbankan lembaga keuangan sebagai lembaga intermediasi keuangan. Walaupun telah banyak kebijakan finansial dan kebijakan teknis yang telah dilakukan pihak kembaga keuangan bagi pengembangan UMKM, akan tetapi masih saja terdapat berbagai pendapat dan fakta yang menunjukkan bahwa pemberdayaan UMKM belum optimal.

Bagaimana sebenarnya peran perbankan bagi para UMKM masih belum diketahui secara jelas. Gambaran kongkrit mengenai peran perbankan bagi UMKM penting diketahui untuk mendukung perancangan dan pelaksanaan strategi perbankan dalam memenuhi kebutuhan UMKM dalam menghadapi pasar bebas MEA